Pak Karmawan, Terus Bersyukur Meski Serba Pas-pasan

21 December 2016
        Usia yang sudah senja tidak menghalangi Pak Karmawan untuk bekerja sebagai penjaga palang rel kereta api. Meski pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang patut dibanggakan, beliau bersyukur masih bisa mencari nafkah untuk dirinya sendiri.
       Sebelum menjadi penjaga palang rel, beliau memiliki usaha menanam pohon pisang di pinggir perlintasan rel Stasiun UI-Pondok Cina dan halte bus Fakultas Hukum UI yang hasilnya dapat dijual. Namun, karena penghasilan dari menjual pisang tidaklah mencukupi, Pak Karmawan membutuhkan pekerjaan lain. Sehingga menjadi penjaga palang rel perlintasan kampus Fakultas Hukum Universitas Indonesia adalah pekerjaannya saat ini. Karena beliau tidak memiliki rumah, Pohon pisang yang beliau tanam di pinggir perlintasan rel menjadi tempatnya setiap malam untuk memejamkan mata. Ya, Pak Karmawan hidup seorang diri, karena masalah ekonomi, beliau sudah lama tak bertemu keluarganya yang berada di kampung.
        Sebagai penjaga palang rel pun sebetulnya penghasilan beliau masih sangat pas-pasan. Namun, beliau tetap bersyukur karena setiap hari masih bisa bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang senang beliau ajak ngobrol di waktu senggang. Baginya hal tersebut merupakan rejekinya yang lain, karena tak jarang mahasiswa-mahasiswa tersebut memberi beliau makanan sembari berbincang dengannya. 
       Pak Karmawan sesungguhnya berharap bisa melakukan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik. Namun, beliau hanyalah lulusan SD dan usianya pun sudah tidak produktif lagi. Saat ini, yang paling penting baginya adalah bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Caranya dengan membantu menjaga keamanan di palang rel, meski apresiasi masyarakat terhadap pekerjaannya kurang.

Seberapa inspiratif artikel ini?

Yuk berbagi artikel ini


Artikel terkini