Rindu Opung Kepada Anak Istri yang Tak Terbendung

12 October 2016
       Ramah, murah senyum dan tidak kenal lelah adalah 3 kata yang menggambarkan sosok Bapak Tigor Situmorang atau biasa disapa Opung. Opung merupakan pendatang dari Medan yang telah hampir 7 tahun hidup di kerasnya kehidupan ibu kota. Usianya yang sudah menginjak separuh abad lebih tidak menyurutkan niatnya untuk terus bekerja sebagai penjaga perlintasan kereta. 
      7 tahun lamanya, Opung mengadu nasib dengan menjadi penjaga perlintasan kereta di perlintasan harapan PGRI di Buaran, Jakarta Timur. Beliau setiap hari menerima recehan dari orang-orang yang ikhlas memberinya. Bagi sebagian orang uang receh mungkin tidak berarti, namun bagi Opung, semakin berat kantong yang ia bawa dengan recehan, tandanya ia bisa makan hari itu juga, tak lupa juga beliau sisihkan beberapa receh untuk tabungan pulang ke Medan.
      Ya, saat ini Opung bekerja lebih keras dari biasanya, ini ia lakukan karena ia sangat rindu dengan anak dan istrinya yang di Medan. 8 bulan lebih ia tidak pulang ke Medan, apalagi anaknya yang terakhir akan segera menikah. Ingin rasanya beliau melihat dan mengantarkan anaknya menuju kehidupan baru yang lebih bahagia. 
      Sosok sederhana dan luar biasa ini memberikan pelajaran bahwa bekerja adalah ibadah, dan ibadah jika dilakukan dengan ikhlas akan mendatangkan rejeki yang tidak ternilai. Setiap keringat yang keluar dari dahinya ia anggap sebagai pahala tanpa keluh kesah sedikitpun. 

Seberapa inspiratif artikel ini?

Yuk berbagi artikel ini


Artikel terkini